Beberapa Puisi yang Saya Buat
Langsung aja ke intinya,
Jejak Mimpi
Cipt. π‘πͺπ·π°π°πͺ π‘πͺπΆπͺππ±πͺπ·
Dalam sudut ruang memori,
angin berbisik lalui jiwa para pemimpi,
‘Yang dulu pernah bersinar,
kini tenggelam dalam lautan bintang,
Di koridor jejak kenangan,
Kapur menjadi saksi para penyair mimpi,
Di bangku kelas yang menembus lorong ruang waktu,
ada kala di mana kepala tertunduk bosan,
tatkala mimpi dituliskan di sudut buku usang,
Bangku kayu itu,
Menjadi altar bagi mimpi yang dikorbankan,
Menjadi monumen waktu saat kita membungkuk di hadapan angka dan aksara,
mengimani bahwa nilai adalah takdir,
dan kesalahan adalah dosa yang harus ditebus,
Pernah ketika sahabat berjalan suatu loka,
lalu suatu hari, hilang, di persimpangan,
Pernah ada hati menyimpan rasa,
namun akhirnya belajar tentang arti melepaskan,
Kita tertawa tanpa tahu bahwa esoknya 'kan menjadi gema,
tertawa seolah esok hari bukanlah perpisahan yang akan menjelma bayangan,
Kita menulis nama di buku-buku,
mengira bahwa tinta itu abadi,
Meski demikian satu hari nanti, ‘kan tersapu, terkikis oleh gejolak takdir dan waktu,
menjadi serpihan kecil dalam ingatan yang tak selalu utuh,
Resonansi lonceng pagi, datang ucapkan selamat tinggal kepada babak-babak kehidupan yang berlalu,
Adalah metronom yang mengatur tarian takdir,
menyeret dalam pusaran ritme yang kacau,
sebelum akhirnya terhempas, disapu badai kehidupan,
Barang siapa mengira bahwa suatu hari, dentangnya akan menjadi elegi?
Lalu kala raja malam memutar waktu,
gerbang itu 'kan tertutup tanpa bisa terbuka kembali,
Kita keluar, terasa berat melangkah,
meninggalkan ruang yang pernah menjadi rahim waktu,
menuju semesta baru yang tak menyediakan peta,
Dan 'ku tahu, bangunan ini akan menjadi labirin memori,
ia tidak menunggu, tidak pun merangkul,
Hanya berdiri diam sebagai monumen waktu,
mengingatkan kita bahwasannya dunia tak pernah berhenti belajar dan mengajarkan,
Kehidupan, menjadi ujian yang akhirnya tidak pernah diumumkan
Pena Kehidupan
Cipt. π‘πͺπ·π°π°πͺ π‘πͺπΆπͺππ±πͺπ·
Di ujung kelas sederhana, ada sosok bijak tanpa mahkota, suaranya begitu lembut menembus jiwa, mengajarkan arti hidup yang penuh makna, pagi dingin ia datang lebih dulu, langkahnya tenang menyusuri lorong bisu, dengan secangkir harapan dan sejumput doa, membuka pintu dan menyapa dunia,
Wajah yang lelah, tak pernah ia tunjukkan, meskipun malamnya habis untuk persiapan, merangkai mimpi kami di lembar-lembar putih, di matamu tak ada murid yang sia-sia, setiap jiwa adalah taman penuh makna, yang perlu dirawat dengan kasih, agar kelak berbunga, meski hari-hari berat.
Tangannya menggenggam pena yang menari, menyulap papak tulis menjadi pelangi, setiap garis, setiap titik, setiap huruf, adalah warisan yang melampaui waktu,
lelahmu yang dirimu pendam, adalah saksi alur waktu yang tak pernah beristirahat, berapa kali engkau terluka, tanpa kami tahu, ketika usaha panjangmu dibalas tidak sesuai dengan apa yang engkau lakukan, dirimu tetap berdiri, dengan tatapan lembut, karena kau percaya, kami adalah alasanmu bertahan,
Setiap doa yang kau bisikkan di malam hening, adalah pendamping diri kami, membuat setiap langkah di perjalanan kami bercahaya, engkau sang penjaga harapan, saat kami goyah, kau memeluk kami dengan kata, meski terkadang mulut kami keras, hati membatu, akan tetapi cintamu tetap mengalir, tak pernah membeku.
Oh, wahai semesta alam, para bintang, dingin angin malam, kami ingin sampaikan pada dirinya, bahwa dirinya menunjukan, bahwa mimpi tak kenal ruang, keyakinan dan usaha adalah jembatan untuk mencapainya,
Bagai riak kecil di tengah samudra, kami tak bisa sepenuhnya mengungkapkan semuanya, kami tak bisa berkata banyak, tapi ku bisa membuat puisi kecil ini, walau hanya seperti butiran debu di padang pasir luas, lorong-lorong takdir kami lewati, 1001 badai kami tembus, engkau membuat kami berdiri saat dunia membuat kami terjatuh.
Mengajarkan bukan hanya tentang huruf dan angka, tapi arti keberanian dalam menghadapi dunia, kau melihat potensi di balik kekurangan, menemukan harapan di tengah keraguan, walau kami mungkin tak selalu mendengar, sering mengabaikan petuahmu, namun kini kami mengerti, betapa segala kasihmu adalah pelita yang tak pernah akan redup,
Jika detik ini kami melangkah lebih jauh, itu karena sayapmu yang memberi kami pelindung, semua cinta kasih dan pemberianmu adalah jejak yang takkan terhapus oleh waktu, walau waktu mengikis semua yang ada di alam semesta ini, jasa-jasamu kan selalu menjadi bintang di setiap malam kelam, begitu terang, takkan pernah pudar, takkan pernah redup, cahayanya begitu terus menerangi sepanjang masa.
Terima kasih, dengan air mata yang membasahi pipi, keringatmu yang jatuh ke pundakmu, pikiranmu yang engkau bagi, setiap helaan napas sabarmu, semuanya berarti, semuanya ku kan ukir sebagai kenangan yang tak lekang oleh waktu, terima kasih, guruku.
Sekian, peace ✌π»



Comments
Post a Comment